Kisah Bu Atun Guru SMAN 1 Purwakarta yang Diejek Muridnya, Sumbangkan Rp25 Juta dari Dedi Mulyadi

Bu Atun, guru SMAN 1 Purwakarta, memaafkan siswa dan menyumbangkan bantuan Rp25 juta untuk anak yatim.
Sumber :
  • Istimewa

Purwasuka – Kisah menyentuh datang dari SMAN 1 Purwakarta setelah beredarnya video viral yang memperlihatkan tindakan tidak sopan sejumlah siswa terhadap seorang guru.

img_title Festival Budaya Hari Jadi Purwakarta Teguhkan Ajeg Budaya dan Kebanggaan Warisan Leluhur

Dalam rekaman tersebut, tampak beberapa siswa mengolok-olok guru bahkan menunjukkan gestur tidak pantas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Peristiwa ini segera memicu perhatian luas masyarakat. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut merespons dengan mendatangi langsung sekolah untuk menemui guru yang menjadi korban, yaitu Atun, yang akrab disapa Bu Atun.

img_title Bantuan Pangan Sudah 100 Persen, Stok Beras di Bulog Subang Aman

Kunjungan tersebut tidak hanya bertujuan memberikan dukungan moral kepada guru, tetapi juga sebagai upaya pembinaan terhadap para siswa yang terlibat.

Dalam penanganannya, pihak sekolah dan pemerintah tidak mengambil langkah hukuman berat.

img_title Perkuat Ketahanan Pangan, BULOG KC Subang Telah Salurkan 8.052 Ton Beras Bantuan Pangan

Sebaliknya, para siswa diarahkan mengikuti program pembinaan sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Sebelumnya, sempat muncul usulan agar para siswa menjalani kerja sosial seperti membersihkan ruang kelas dan toilet sekolah.

Namun pendekatan yang diambil lebih menitikberatkan pada pembinaan agar siswa memahami kesalahan dan memperbaiki sikap.

Dalam dialog langsung bersama Bu Atun, Dedi Mulyadi menanyakan perjalanan pengabdian sang guru.

Dari percakapan tersebut terungkap bahwa Bu Atun telah mengajar sejak tahun 2003.

"Jadi ibu sudah ngajar di sini dari 2003 jadi sudah 23 tahun," kata Dedi Mulyadi, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL.

Menanggapi kejadian yang viral, Bu Atun mengaku tidak mengetahui peristiwa tersebut saat terjadi.

Ia baru menyadarinya setelah menerima banyak pesan dari alumni serta pengakuan dari siswa yang terlibat.

“Saya kaget juga semester 2, saat saya sedang menyampaikan pembelajaran praktik keberagaman, saya sendiri nggak tahu itu di belakang saya (aksi para siswa merekam video),” ungkapnya.

Meski demikian, Bu Atun memilih untuk memaafkan para siswa.

Ia menilai bahwa mereka masih memiliki masa depan panjang dan membutuhkan bimbingan, bukan sekadar hukuman.

“Saksinya Allah bahwa saya sudah memaafkan,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa selama ini dalam proses mengajar, dirinya selalu mengutamakan pembentukan karakter siswa, khususnya dalam aspek spiritual, akhlak, dan emosional.

“Saya selalu mendahulukan kecerdasan spiritual, keimanan mereka, akhlak mereka, kemudian emosional mereka,” ujar Bu Atun.

Halaman Selanjutnya
img_title