Bahagia-kah HMI?
Mahasiswa tidak lagi "cogito ergo sum" 'aku berfikir maka Aku ada'. Kini beralih menjadi "photos ergo sum" "dengan berfoto maka Aku ada".Â
Mahasiswa sebagai entitas manusia yang diciptaan Tuhan dalam bentuk yang sempurna. Anugerah kecerdasan illahiah tak lagi diasah. Agaknya, menghambakan kehanifan-nya kepada kecerdasan buatan. HMI hingga detik ini belum melahirkan fajar teori ilmiah terbaru untuk menghadapi era Homo Deus.
Selanjutnya, peran sebagai organisasi perjuangan kian meredup dalam sikap aktivisme-nya. Perjuangan individualis dan kelompok lebih sering mewarta. Sementara kehadirannya di tengah-tengah tangisan kaum mustadafin dan bencana hukum serta alam semesta semakin hambar.Â
Semisal, dalam peran perjuangannya untuk kemerdekaan Palestina dan perlawanan atas genosida yang dilakukan Zionis Israel dan kroni, sepertinya absen dalam catatan sejarah terkini. Berani menjadi martir hanya pada bab "merebut kuasa" dan sumber-sumber kapital.Â
Ego kelompok yang menjangkiti peran perjuangan, telah merobek batas-batas kesucian perjuangan. Meludahi batas-batas kehormatan. Yang penting "menang". Bukan yang "benar". Tidak juga berdasarkan pada Sunah, apa lagi Al Quran. Bahkan dengus nafas bukanlah keislaman, tapi kepentingan.
Pada lapisan dendrit kesadaran yang lebih dalam, saya akan coba mengurai makna bahagia. Dengan keterbatasan diri, saya meminjam pandangan tentang makna kebahagiaan menurut para arifillah.
Kebahagiaan menurut Sayyidina Al Farabi, berbeda dengan kenikmatan. Karena kenikmatan bersifat temporer, tidak abadi, dan mudah berubah. Jika ada yang menganggap pencapaian materi, kedudukan sosial, dan kekuasaan adalah kebahagiaan, itu bukan. Tetapi kenikmatan.
Syayidina Al Farabi mengajarkan kebahagiaan adalah hasil dari pengembangan akal, jiwa dan penyempurnaan potensi diri dalam mengenal Allah SWT.Â
Dalam kitabnya Tansil al-sa'adah, bahwa kenikmatan hanyalah perantara menuju kebahagiaan. Kebahagiaan manusia bukan pada dimensi fisik tapi dimensi spiritual. Kesempurnaan spiritual adalah kebahagiaan itu.
Kebahagiaan sejati (bertemu dan akrab dengan Tuhan) hanya dapat diraih manakala manusia meninggalkan kebahagiaan semu, yaitu kenikmatan duniawi. Inilah yang dimaksud Imam Khomaini, bahwa kebahagiaan duniawi atau pencapaian kenikmatan yang temporer, serta hanya aspek fisik dan materi adalah NAJIS.Â