Sebentar Lagi Puasa Ramadhan, Kenali Sejarah dan Keutamaannya

Ilustrasi bulan Ramadhan
Sumber :
  • Freepik.com

PurwasukaPuasa Ramadhan adalah salah satu ibadah wajib bagi umat Islam di seluruh dunia. 

img_title Sejarah Baing Yusuf dan Masjid Agung Purwakarta, Pusat Syiar Islam Abad 19

Ibadah yang dilakukan selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan ini merupakan berkah bagi setiap umat Islam. Orang-orang akan berlomba untuk melakukan kebaikan dan menambah amal ibadahnya pada bulan Ramadhan ini.

Salah satu rukun Islam ini rupanya memiliki sejarah yang cukup panjang. Pasalnya kewajiban untuk berpuasa tidak hanya bagi umat zaman sekarang saja, akan tetapi juga bagi umat sebelum zaman Nabi Muhammad SAW.

img_title FGD Penulisan Sejarah Subang Resmi Dibuka, Targetkan Buku dan Video Edukasi

Sejarah Puasa Ramadhan

Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan kewajiban bagi umat Islam dan memiliki sejarah yang panjang dalam agama Islam.

img_title Sate Maranggi Purwakarta: Sejarah, Cita Rasa, dan Ragam Penyajian Khas Sunda

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Hal ini berarti bahwa semua agama samawi mengajarkan keesaan kepada Allah, salah satu ibadah yang wajib dilakukan adalah berpuasa.

Melansir dari laman NU Online, sejarah kewajiban puasa Ramadhan tidak terlepas dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke negeri Yatsrib (Madinah).

Puasa Ramadhan diwajibkan kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriah dengan cara dan model yang dilakukan umat Islam hingga kini.

Sebelum muncul perintah untuk melakukan puasa pada bulan Ramadhan, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat sudah melakukan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.

Setelah Allah SWT menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 183-185 sebagai perintah wajib puasa Ramadhan, maka Nabi Muhammad SAW memerintahkan para sahabat untuk melakukan puasa di bulan Ramadhan.

Puasa Ramadhan inilah yang kemudian menggantikan puasa Asyura. Namun demikian, Nabi Muhammad SAW tetap mengizinkan umat Islam untuk melakukan puasa Asyura. Akan tetapi puasa Asyura menjadi puasa sunnah yang boleh dilakukan tapi tidak wajib bagi umat Islam.

Pada tahun pertama perintah wajib puasa Ramadhan, para sahabat dilarang untuk mendekati istri mereka pada malam-malam puasa. Aturan tersebut dirasa berat oleh para sahabat. Al-Qur’an kemudian meringankan keberatan dan kesulitan pelaksanaan ibadah Ramadhan tersebut melalui Surat Al-Baqarah ayat 187 yang membolehkan mereka untuk menggauli istri pada malam harinya.

Halaman Selanjutnya
img_title