Emas Hitam dari Subang: Potensi Arang Karbon yang Mendunia

Tono pengusah arang karbon Subang
Sumber :

Purwasuka – Subang bukan hanya terkenal dengan nanas atau pertanian, tetapi juga mulai dikenal lewat “emas hitam”, sebutan untuk arang karbon yang bernilai tinggi.

img_title Aspidmil Kejati Jabar Kunjungi Kejari dan Polres Subang, Perkuat Koordinasi Penanganan Perkara Koneksitas

Dari limbah kayu hingga batang kopi yang sudah tak produktif, bahan-bahan sederhana ini diolah menjadi produk bernilai ekspor. 

“Saya ingin Indonesia bukan hanya jadi pemasok bahan baku, tapi juga jadi barometer produk turunan karbon di dunia,” kata Tono, seorang pelaku usaha arang karbon asal Subang.

img_title Bulog Subang Minta Warga Waspada Beras SPHP Oplosan, Ajak Warga Aktif Melapor

Perjalanan Tono bermula dari keprihatinan melihat banyak pohon kopi tua dibiarkan begitu saja. Ia lalu menawarkan solusi: petani cukup mengumpulkan batang kopi yang sudah tidak produktif, lalu diolah menjadi arang karbon.

“Dengan modal minim, keterlibatan masyarakat kecil bisa lebih banyak. Jadi bukan cuma saya yang untung, tapi semua ikut terlibat,” ujarnya.

img_title Tangis Emak Datem Pecah Saat Terima Rumah Baru dari Kapolres Subang, Ini Kisah di Balik Program Bedah Rutilahu

Konsep padat karya ini membuat usaha arang karbon cepat meluas hingga ke berbagai daerah lain seperti Lampung, Palembang, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Nilai arang karbon ternyata jauh lebih tinggi dibanding batubara. Jika batubara hanya bernilai sekitar Rp700.000 per ton, arang karbon bisa menembus Rp3,5–4 juta per ton. 

Tidak hanya itu, manfaatnya pun luas: dari industri kesehatan, militer, hingga produk sehari-hari seperti sabun, pasta gigi, dan bahkan bahan bakar ramah lingkungan. 

“Kalau batubara meninggalkan kerusakan alam, arang karbon justru membantu memberdayakan masyarakat,” jelas Tono. 

Inilah yang membuat banyak pihak menyebut produk ini sebagai “emas hitam dari Subang”.