Pemuda Subang Ini Olah Daun Nanas Jadi Kain Eksklusif
- Youtube
Purwasuka – Subang dikenal sebagai daerah dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah seperti nanas.
Namun, bukan hanya hasil bumi yang menjadi kebanggaan, kreativitas anak mudanya juga patut diacungi jempol. Banyak pemuda Subang yang berhasil mengolah potensi lokal menjadi karya bernilai tinggi.
Salah satunya adalah Alan Syahroni, pemuda dari Desa Cikadu, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang. Ia berhasil mengubah sesuatu yang dianggap limbah, yaitu daun nanas, menjadi produk bernilai ekonomi tinggi berupa kain serat nanas.
Kain ini bahkan disebut-sebut memiliki kualitas setara, bahkan lebih baik daripada kain sutra. Kisah Alan bukan hanya tentang kreativitas, tetapi juga keberanian untuk mencoba hal baru.
Berawal dari iseng di tahun 2013, kini usahanya berkembang pesat dan produknya sudah menembus pasar internasional hingga ke Singapura, Malaysia, dan Jerman.
Perjalanan Inspiratif Alam Syahroni
Awalnya, Alam hanya mencoba memanfaatkan daun nanas yang banyak terbuang di sekitarnya. “Saya mencoba untuk memanfaatkan daun nanasnya atau limbahnya untuk salah satunya bahan baku tekstil,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Dari percobaan sederhana, ia kemudian mengikuti lomba bisnis dan berhasil memenangkan sebuah mesin dekortikator, yang hingga kini masih digunakan untuk memproduksi serat daun nanas.
Seiring berjalannya waktu, produk kain dari serat nanas ini semakin banyak diminati. Pesanan datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Padang, Jambi, Riau, Jakarta, Bandung, hingga Surabaya.
Tak hanya itu, pembeli dari luar negeri pun tertarik, terutama dari Singapura, Malaysia, Jepang, dan Jerman. Bahkan, di beberapa destinasi wisata seperti Bali, produk kain serat nanas ini ikut dipasarkan.
Lebih dari sekadar bisnis, usaha ini juga memberi manfaat sosial. Alam berhasil membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar.
Kini, banyak warga yang ikut bergabung dalam produksi, sehingga usaha ini bukan hanya menguntungkan dirinya, tetapi juga mengangkat perekonomian desa. Kisah ini membuktikan bahwa kreativitas bisa mengubah sesuatu yang dianggap sampah menjadi produk bernilai tinggi.