Pewarta Profesi Mulia
Wartawan; Sejarahwan sepanjang Zaman
Profesi wartawan tiap putaran waktu menghasilkan karya jurnalistik. Halaman-demi halaman dirunut dalam rubrik menarik untuk disajikan. Isue-demi issue dipintal dengan pikiran menjadi fakta yang diungkapkan. Lalu fakta dan kejadian (peristiwa) itu, tersimpan rapi dalam algoritma branda media.
Saat dinikmati pembaca dan pemirsa, ia menjadi nutrisi dalam bentuk informasi. Menjadi pijakan bagi pengambil kebijakan. Menjadi peluang bagi pencari harapan. Pun menjadi ancaman bagi kejahatan yang disembunyikan.
Kompilasi yang tercatat masif dan kreatif tak akan hilang oleh derasnya perubahan. Informasi-informasi itu tersusun dalam museum bergerak. Bahkan peristiwa ratusan tahun yang lalu, dapat ditarik kembali. Menjadi catatan sejarah yang terus dirawat oleh ingatan masa.
Wartawan adalah Sejarahwan yang tak putus. Catatan berbagai peristiwa tersusun rapi sebagai sejarah yang pernah terjadi. Siapakah Sejarahwan di dunia ini yang mampu mencatat peristiwa dari waktu ke waktu dalam kehidupan manusia itu? Dialah wartawan. Wartawan menyimpannya setiap dokumen momentum dalam alfabet berderet. Siapa pun boleh menikmati, mendownload dan menggunakan informasinya tak pernah dipungut royalti.
Wartawan adalah dedikasi kerja Sejarahwan
Hari Pers Nasional tahun 2026 ini, wartawan menemukan tantangan baru. Kerjanya tidak hanya sekedar menulis warta, namun juga harus memviralkannya. Organisasi profesi (PWI) ditantang zaman. Dimana tiap orang yang menggenggam media sosial, kini telah menjelma menjadi pewarta. Tak peduli, ia paham kode etik atau tidak. Tak hirau, ia memiliki kartu pers atau tidak. Ia hanya butuh "akun". Kemudian melabelinya dengan sebuah nama media.
Disinilah para insan media, dibutuhkan membaca dan mengulang paradigma Socrates. Para pewarta mesti pintar menggunakan teori Triple filter. Dimana berita harus berisi informasi Benar, Baik, dan Bermanfaat.
Selamat Hari Pers Nasional Tahun 2026.
Berkabarlah Para Insan Media. Karena Pers Menavigasi Sejarah Dunia.